Senin, 06 Desember 2010

Bromo dan Mitologi Rakyat Ngadas




Oleh Abdul Malik Ibrahim
"Mbeledos ora opo-opo, sing penting nyambut gawe, sesuk langsung gawe sesajen" (Meletus tidak apa-apa, yang terpenting tetap bekerja, setelah itu kita membuat sesaji).
Ucapan itu muncul dari Nurjono (35), seorang warga Desa Ngadas RT7, RW1 Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yakni satu dari sekian desa yang menjadi perhatian serius terkait meningkatnya status Gunung Bromo (2.329 mdpl) dari "Waspada" ke "Siaga" terus "Awas" atau level IV
Menurut budayawan asal Malang, Prof Henry Supriyanto, ungkapan warga tersebut adalah sebuah mitos yang masih tertanam di sekitar warga lereng Bromo, khususnya di perbatasan Gunung Bromo dengan Kabupaten Malang.
"Mitos keturunan Jaka Seger dan istrinya Lara Anteng yang merupakan keturunan dewa-dewa itu masih dipegang erat oleh warga Desa Ngadas," paparnya.
Henry menceritakan, kuatnya hubungan antara Gunung Bromo dengan warga Desa Ngadas tak lepas dari upaya Jaka Seger yang pernah mengorbankan putra bungsunya atau putra ke 25 (Kusuma) untuk sesaji Gunung Bromo.
Warga yakin dengan sesaji yang dilakukan Jaka Seger, Gunung Bromo tidak akan meletus, dan apabila ada letusan warga meyakini tidak akan mengarah ke desanya.
"Mitos itu hingga kini masih dipegang masyarakat Desa Ngadas, dan tidak akan terpengaruh dengan meningkatnya aktivitas Gunung Bromo," kata Henry yang juga guru besar Sejarah dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Seusai mengorbankan anak bungsunya, Jaka Seger lantas meminta kepada warga agar apabila mempunyai "hajatan" atau melakukan perayaan supaya tidak "menanggap" (menampilkan) wayang kulit, melainkan wayang topeng, wayang panji atau ludruk. Hal ini untuk menghormati "Sang Bethoro Bromo" (Dewa Bromo).
Henry mengatakan, peningkatan status gunung api tersebut dianggap warga sebagai peringatan bagi seluruh manusia di bumi agar tidak membuat kerusakan. Meski demikian, Henry tetap meyakini, warga Ngadas tidak akan pindah sebab kuatnya memegang mitos tersebut.
Kuatnya warga dalam memegang mitos tersebut, dibenarkan oleh Kepala Desa Ngadas, Kartono. Ketika ditemui di Balai Desa Ngadas, Kartono mengatakan, hingga saat ini warganya yang berjumlah 1.781 jiwa tersebut, masih lebih percaya dengan keyakinannya sendiri daripada info yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Hal ini terlihat dari aktivitas warga yang tetap menjalani kesehariannya seperti biasa, dan tidak ada "keanehan" terkait adanya info peningkatan status.
"Warga selalu berharap kabar baik dari Gunung Bromo, dan tidak pernah berpikir aneh-aneh. Oleh karena itu, meski badan vulkanologi menyebutkan status desanya cukup rawan terkena abu vulkanik, namun warga tetap menanggapinya dengan biasa," papar Kartono.
Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas Gunung Bromo yang berakibat munculnya abu vulkanik tersebut merupakan hal yang biasa bagi warga Ngadas, sebab peristiwa itu tidak hanya sekali dialami warga.
"Hingga saat ini warga lebih memilih tetap tinggal di desa, meski status tersebut dinilai PVMBG membahayakan, sebab kejadian ini sudah terbiasa dialami oleh warga," tuturnya.
Turis Turun
Sementara itu, info yang bersumber dari PVMBG terkait meningkatnya status Bromo tersebut, dinilai warga sangat merugikan, karena sejumlah wisatawan lokal maupun asing tidak mau lewat desa tersebut untuk menuju Bromo, karena desa itu sudah dinilai "berbahaya".
Akibatnya, penghasilan sejumlah warga yang selama ini didapat dari adanya kunjungan wisatawan, menurun drastis.
Wahyudi, salah seorang penjual bakso yang biasa "mangkal" di "rest area" (tempat peristirahatan wisatawan) mengatakan, sudah dua minggu ini penghasilan menjual bakso menurun drastis dari Rp350 perhari menjadi Rp175 perhari.
Ia menjelaskan, pada hari biasa dirinya cukup mangkal di "rest area" dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, dan baksonya sudah habis. Namun, setelah pemberitahuan peningkatan status tersebut, baksonya selalu tersisa, dan mangkalnya hingga jam 16.00 WIB.
Warga lain, Harjo mengatakan, adanya kabar peningkatan status tersebut, membuat desanya semakin sepi dan jarang sekali dikunjungi oleh wisatawan.
"Wisatawan sampai saat ini tidak mau datang lagi untuk melihat Bromo dari perbatasan Kabupaten Malang, padahal hingga saat ini kondisinya tidak ada masalah, dan abu yang katanya mengarah ke Ngadas itu juga tidak kelihatan," ujarnya.
Meski demikian, Kepala Desa Ngadas, Kartono tetap menyiapkan jalur evakuasi. "Jalur evakuasi ini sebagai antisipasi apabila terjadi apa-apa untuk memenuhi prosedur keselamatan warga," katanya.
Saat ini, jalur evakuasi tersebut telah diberi tanda khusus dan mengarah sekitar 12 kilometer dari Desa Ngadas.
Tempatnya yakni berada di Desa Gubug Klahak dan Wringin Anom yang merupakan tempat paling aman dari erupsi Gunung Bromo. "Tempat untuk evakuasi dari Gunung Bromo yakni berjarak 22 kilometer dari pusat abu Bromo," katanya.
Berdasarkan laporan terakhir yang diterima Kartono, abu vulkanik Bromo tersebut hanya melewati hutan yang berada di samping Desa Jarak Ijo atau mengarah ke Desa Losari. Sehingga, tidak sampai ke pemukiman warga. "Alhamdulillah masih aman, dan saya minta doanya agar Desa Ngadas tetap aman dari bahaya erupsi Bromo," ucapnya.
Desa Ngadas merupakan kawasan Kabupaten Malang yang terdekat dengan lokasi Gunung Bromo, jaraknya dari pusat vulkanik Abu Bromo yakni sekitar 15 kilometer.
Desa Ngadas terdiri dari dua dusun, yakni Dusun Ngadas dan Dusun Jarak Ijo, dengan presentase penganut agama Islam 30 persen, Hindu 30 persen serta Budha 30 persen.
__________
Abdul Malik Ibrahim
Sumber: http://oase.kompas.com

Alfred Riedl Lakukan Perubahan Komposisi Pemain Saat Lawan Thailand

Timnas Indonesia akan menjalani laga terakhir Grup A AFF Suzuki Cup 2010 menghadapi Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (7/12). Apapun hasil pertandingan ini tidak akan mengubah posisi Irfan Bachdim dkk sebagai pemuncak grup A.

Meski sudah tidak lagi menentukan, para pemain tetap akan bermain serius menghadapi Thailand. Seperti ditegaskan oleh pelatih Alfred Riedl, timnas tak inign mengecewakan puluhan ribu suporternya yang sengaja datang langsung ke stadion untuk mendukung mereka.

“ Kami akan melakukan perubahan dalam komposisi pemain sekitar 30 persen. Target kami adalah tetap menampilkan permainan yang bagus dan memenangkan pertandingan. Kami disini bukan untuk berlibur dan harus memberikan yang terbaik,” kata Wolfgang Pikal, asisten pelatih timnas Indonesia.

Perubahan itu juga terkait dengan kondisi beberapa pemain yang kurang fit seperti Hamka Hamzah dan Yesaya Desnam. Selain itu juga menjaga pemain dari hukuman akumulasi kartu kuning saat semi final nanti. Hingga dua pertandingan, ada dua pemain Indonesia yang telah terkena kartu kuning, yakni Ahmad Bustomi dan Firman Utina.

Lebih lanjut, Wolfgang Pikal memprediksikan Thailand akan bermain menyerang total. Pasalnya mereka membutuhkan kemenangan untuk bisa lolos ke semi final. Kondisi ini tidak lantas membuat Indonesia takut.

“ Dengan permainan menyerang yang ditunjukkan Thailand, saya harap akan memberikan ruang kosong pada pertahanan mereka. Sektor itulah yang harus kita manfaatkan dengan maksimal,” ungkap Wolfgang.

Yang jelas, para tim pelatih Indonesia meminta pemainnya untuk tetap waspada terhadap Thailand yang punya rekor bagus jika bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ada empat pemain yang menjadi pusat perhatian.

“ Kita mewaspadai playmaker tim Thonglao Datsakorn, pencetak dua gol Sarayoot Chaikamdee, Striker berpengalaman Teerasil Dangda dan Suree Sukha yang sangat cepat da sering mengirimkan umpan crossing yang berbahaya,” papar Wolfgang.

Di sisi lain, pelatih Thailand, Bobby Robson meyakini pemainnya bisa mengatasi berbagai tekanan di lapangan saat menghadapi tuan rumah Indonesia. “ Thailand dihuni oleh skuad yang sangat berpengalaman. Mereka sudah terbiasa tampil di stadion besar yang dipenuhi penonton. Mereka pasti bisa mengatasi tekanan apapun,” kata Robson dengan yakin.

Selain faktor pengalaman pemainnya, mantan bintang Manchester United ini juga menyatakan Thailand selalu beruntung jika tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno. “ Ini boleh dibilang sebagai stadion keberuntungan bagi Thailand. Di luar itu, jika para pemain percaya diri dengan kemampuan mereka, kemenangan pada laga lawan Indonesia pasti bisa diraih,” tegas Robson.

Mantan pelatin Middlesbrough ini juga tidak menganggap Indonesia yang kemungkinan tampil dengan pemain pelapis sebagai keuntungan. Ia justru berpikir sebaliknya. Para pemain cadangan itu memiliki tenaga yang masih fresh dan punya motivasi tinggi untuk membuktikan kualitasnya kepada pelatih maupun fans.

Pertandingan antara Indonesia melawan Thailand ini akan mulai berlangsung pada pukul 19:30 WIB. Di saat yang bersamaan, timnas Malaysia juga bertanding melawan Laos di Stadion Jakabaring, Palembang. (asp)

(PSSI FOOTBALL)